Kontrasosial dan Realita: Sebuah Renungan*

KontrasosialKuliah berdampak apa buat kehidupan sosial saya? Tidak! Semuanya bersifat sangat KONTRASOSIAL, sebuah istilah yang saya ciptakan sendiri untuk menyebut mereka yang berambisi mencapai apapun, dengan beragam cara. Dulu ketika masa SMA sifat itu—katanya—ditekan dengan baju yang diseragamkan, sepatu yang di-sama-hitamkan, dan peraturan lain, alih-alih menjadikan manusia yang rendah diri. Tapi toh itu cuma tiga tahun, belum lagi ternyata tiga tahun tersebut sekolah tak berhasil menekan keburukan itu.

Akhirnya, dengan berlalunya waktu,  mereka dilepas ke jenjang yang lebih tinggi, yakni universitas. Mereka meninggalkan masa putih abu-abu mereka menuju ke sebuah rumah akan tirani yang dikemas dengan slogan yang merayu, mengenai hebatnya kepemimpinan dan doktrin suprarasional. Mereka yang menyandang status beken dan keren segera meraih tempat ke puncak ketenaran. Sedangkan yang dulu terkucilkan menegakkan jati diri mereka dalam sebuah organisasi berbau politik mengatasnamakan pembelaan kaum pinggiran, katanya. Sekarang yang tersisa dan terombang-ambing hanyalah mereka yang tak mau ikut arus, memandang sesuatu dengan sangat berilmu, kritis, dan bijaksana. Mereka tak sadar kalau bangku kuliah itu adalah bak negara liberal, semua bebas berpolitik, berorganisasi, menindas yang lemah, naik ke puncak dengan uang, dan jurus-jurus aneh lainnya.

Namun dibalik semua itu, saat mereka SMA dulu, mereka dididik untuk selalu belajar, dan “resikonya” mereka dianggap kuper, kutu buku, dan istilah lainnya. Namun jangan tanya prestasi mereka, mereka akan selalu bersinar ketika diskusi dan debat ilmiah, pertanyaan tentang wawasan dunia, dan segala sesuatu yang menjadikan mereka bijaksana sedemikian rupa. Di kampus, mau tak mau mereka harus menyesuaikan diri dengan seperangkat nilai dan norma ala mahasiswa, baik itu keburukan yang disulap menjadi baik, dan sebaliknya. Ada yang bertahan, ada yang terseret, dan ada pula yang muak dan akhirnya menyandang status mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang) atau yang cerdas kemudian mulai berwirausaha kecil-kecilan, lumayan menambah uang buat bayar kos pikir mereka.

Di lain cerita, seorang kawanku adalah mahasiswa yang masuk ke dalam kategori bijaksana itu. Entah mengapa ia selalu muak dengan perkumpulan-perkumpulan politis dan radikal yang serba menilai sesuatu dengan paham nihilisme—segala sesuatu adalah salah—hanya untuk memuaskan nafsu mereka. Sebenarnya, pada kenyataanya ia adalah orang yang senang dengan ilmu agama dan sesuatu yang berbau penelitian serta penalaran. Namun tak lama kemudian ia menyadari bahwa sebagian organisasi keagamaan hanya menjadi momongan organisasi ekstrimis, berusaha memikat mahasiswa lugu dengan semboyan untuk menegakkan negara khilafah, padahal tujuan utamanya nyata-nyata berusaha meniadakan dasar utama NKRI. Organisasi kemahasiswaan semacam itu kini mengarah ke pemahaman yang serba eksklusif, menyikapi fenomena-fenomena sosial-masyarakat tanpa nalar yang rasional dan empiris yang akhirnya menyebabkan mereka sedikit-sedikit demo dan sedikit-sedikit teriak-teriak gak penting di jalanan protokoler kota.

Mau tak mau akhirnya agama di kampus dipandang remeh, kerena yang dipandang bukan dari kemoderatan dan kedalaman ilmu uhkrowi yang dibahas, namun pada orang-orang penggeraknya. Pembicaraanpun sampai ke penampilan para pengikutnya yang sedikit berbeda dengan budaya jawa pada umumnya. Maaf saya tidak memojokkan mereka yang notabene adalah pemeluk agama Islam, namun saya hanya berusaha memberikan pandangan lain yang mungkin lebih bisa diterima. Menurut saya, Islam dibangun dari dasar hati yang bernama keimanan, kemudian diteruskan dalam ideologi dan pemahaman yang cinta damai dan moderat, bukan penampilan yang utama. Toh perkataan “Agama itu selalu benar. Yang terkadang salah adalah penganutnya” adalah sebuah kebenaran untuk sementara ini. Sebenarnya tak perlu bersolek semacam itu karena berpakaian yang wajar masih tak apa ‘kan? Lagipula jika kita benar-benar mendalami hukum yang mengaturnya, toh itu bukan sebuah kewajiban, tapi hanyalah sunnah. Wong perkara wajibnya saja terkadang masih ditinggal dan disepelekan, kok malah langsung nyandak yang sunnah? Bukankah ini dikatakan perbuatan setan untuk mencelakakan kita?

Ada lagi, fanatisme atas pemahaman agama yang membuat segalanya menjadi onar dan bermusuhan. Penyebutan kata “ekstrimis”, “liberalis”, dan “orang moderat” kiranya patut untuk diucapkan dengan seperlunya saja. Betapa mahasiswa yang sengaja menganut salah satu dari paham itu sangat senang mempermasalahkan pemahaman yang lain, maklum idealisme benar-benar bak cendawan di musim hujan, tumbuh liar tanpa arahan. Yang terusik dengan omongan macam itu adalah yang beragama “KTP” alias beragama hanya untuk formalitas belaka yang akhirnya menjauh karena tak tahan dengan diskusi yang saling menjatuhkan pemahaman yang lain. Padahal kalau kita menilik sejarah, pemahaman dan pemikiran yang berbeda itu sangat bisa berdampingan dengan damai. Contohnya saja mazhab empat imam besar umat Islam: Imam Syafi’I, Imam Maliki, Imam Hambali, dan Imam Hanafi. Meskipun keempatnya adalah mahasiswa—atau santri—yang hebat pada zamannya, mereka yang ternyata masih memiliki guru yang sama pun tak berselisih paham atas ajaran yang sampai ke mereka. Toh perbedaan yang mereka hasilkan mengamanatkan kepada kita pada saat ini untuk selalu mengedepankan sikap tenggang rasa meskipun ideologinya sudah berbeda. Iya toh?

*Judul dibuat oleh pengelola website

**Penulis adalah Mahasiswa Aktif Jurusan Akuntansi Angkatan 2014 yang juga aktif dalam penelitian, pengamatan, dan pengembangan masyarakat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s