Menelaah Ulang Proses Pembelajaran Mata Kuliah Akuntansi Pertanggungjawaban Sosial

cropped-csr1.jpgSemester lalu, tepatnya pada saat saya memasuki semester kelima jenjang sarjana Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, saya menempuh Mata Kuliah Akuntansi Pertanggungjawaban Sosial sebagai salah satu mata kuliah pilihan. Mata kuliah tersebut saya tempuh selama kurang lebih empat bulan yang terangkum dalam enam belas kali pertemuan. Selama enam belas kali pertemuan tersebut, kelas saya diampuh oleh Bapak Dr. Roekhudin, CSRS.

Saya mengambil mata kuliah tersebut dengan harapan saya akan benar-benar mendapatkan ilmu dan praktik nyata berkaitan penerapan Corporate Social Responsibility (CSR) dan pembuatan Sustainability Reporting yang pada umumnya digabung dalam laporan tahunan perusahaan. Namun sayangnya, menurut saya metode pembelajaran yang diterapkan oleh Bapak Dr. Roekhudin tidak efektif. Hal tersebut demikian, ada beberapa hal yang menyebabkan proses pembelajaran Mata Kuliah Akuntansi Pertanggungjawaban Sosial di kelas tidak maksimal atau belum mencapai target yang diharapkan oleh saya dan teman-teman kelas.

Pertama adalah, metode pembelajaran meenggunakan sistem presentasi kelompok. Metode ini menekankan mahasiswa sebagai pusat dan subjek pembelajaran dan dosen hanya sebagai fasilitator. Menurut saya, metode presentasi tidaklah jelek dan membawa dampak buruk bagi mahasiswa. Namun seharusnya dosen dapat menjadi penengah yang baik dan benar-benar memahami arti atau subtansi dari materi pembahasan tatkala materi yang dibawakan oleh mahasiswa tidak sesuai dengan tujuan yang ditentukan oleh silabus. Sayangnya, dosen di kelas saya tidak terlalu dapat menjadi penengah yang abik serta professional. Hal tersebut demikian, dosen sangat jarang meluruskan informasi yang berkaitan standar pembuatan sustainability reporting. Dosen tidak mampu menjawab beberapa pertanyaan mengenai bagaiamana seharusnya sustainability reporting dibuat. Pada akhirnya, meskipun kami telah mencoba memahami standar pembuatan sustainability reporting secara otodidak, hal tersebut masih belum bisa memuaskan kami.

Kedua, tugas rutin dan mingguan yang diberikan oleh dosen hanya sebatas rangkuman materi yang mana teman-teman di kelas sangat mudah mencontek dan copast melalui internet. Hal tersebut menyebabkan kami mengerjakan tugas ala kadarnya tanpa mengetahui substansi dari tugas yang kami buat. Menurut saya, tigas rutinitas yang diberikan seharusnya diganti menjadi membuat simulai sustainability reporting dari suatu perusahaan. Dengan demikian, mahasiswa akan benar-benar dituntut agar dapat menjadi seorang akuntan yang juga mampu membuat sustainability reporting dengan didasarkan pada Global Reporting Initiatives (GRI)

Oleh karena itu, proses dan metode pembelajaran Mata Kuliah Akuntansi Pertanggungjawaban Sosial sudah sepantasnya dapat mendidik dan mencetak mahasiswa yang benar-benar bisa membuat sustainability reporting. Hingga pada akhirnya, mata kuliah ini bisa menjadi salah satu pijakan bagi mahasiswa untuk mempedulikan kegiatan sosial perusahaan.

Muchammad Asy’ari Mashbur Nasran
Mahasiswa S1 Akuntansi Universitas Brawijaya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s