Memahami Corporate Social Responsibility (CSR) dari Perspektif Tukang Potong Rambut

cropped-csr1.jpgSemenjak saya kuliah di Universitas Brawijaya Kota Malang tahun 2012, saya selalu merasa bingund dalam memilih dan menggunakan jasa Tukang Potong Rambut rambut. Bukan karena rambut saya yang susah di model layaknya artis korea, saya lebih memilih Tukang Potong Rambut yang memiliki lebih banyak nilai tambah ketimbang lainnya.

Pada awalnya, saya menggunakan jasa Tukang Potong Rambut yang letaknya sedikit jauh dari kos. Tanpa menyebut merek, tampilan bangunan, fisik, dan brandingnya sangat meyakinkan bahwa Tukang Potong Rambut tersebut sangat professional. Namun sayangnya, proses pelayanan yang diberikan tidaklah sebagus tampila fisiknya.

Sejak saat itulah, saya mencoba mencari layanan Tukang Potong Rambut lainnya. Hingga pada suatu saat, saya mengenal akrab dengan Tukang Potong Rambut yang letaknya sangat dekat dengan kos saya dan pada akhirnya menjadi langganan ketika saya ingin merapikan rambut saya hingga saat ini. Sebenarnya saya telah mengetahui keberadaan Tukang Potong Rambut yang satu ini sejak lama. Namun bodohnya, saya meremehkan dan menghakimi secara langsung bahwa Tukang Potong Rambut ini akan mengahasilkan output dan proses pelayanan yang tidak optimal. Hal itu saya lakukan dengan berlandaskan bahwa betuk dan tampilan fisik dari Tukang Potong Rambut ini sangat tidak menarik. Ruangan utama dan satu-satunya hanya berukuran 3×4 Meter, ruang tunggu yang tepat berada di samping jalan raya, tempat parkir yang sangat sempit dan tidak rapi, dan lokasinya tidak strategis.

Pada suatu ketika, entah mengapa saya ingin mencoba menggunakan jasa Tukang Potong Rambut yang saya anggao remeh ini. Ketika saya masuk dan mengantri, saya tetap merasa khawatir dan beranggapan bahwa hasil dan prosesnya pasti tidak menyenangkan. Namun, setelah saya mendapatkan giliran, saya langsung duduk di kursi, dan secara langsung si bapak Tukang Potong Rambut menyapa saya dengan sangat santun layaknya seorang santri yang sedang berbicara pada gurunya. “Masnya, rambutnya mau dimodel seperti apa? Pendek rapi atau sedikit gaul, mas?” tanyanya pada saya sambil tersenyum ramah. Sontak saya sangat terkejut dan heran. Saya berfikir, tidak semua Tukang Potong Rambut pinggiran yang dapat melakukan penyambutan klien layaknya yang dilakukan bapak ini. “Saya minta tolong pendek dan rapi saja ya pak. Jangan seperti anak gaul ya pak” pinta saya padanya. Dia langsung merespon “Siap mas. Pendek rapi seperti dosen ya” di langsung mengeluarkan peralatan cukurnya dan mulai merapikan rambut saya.

Seiring berjalannya proses merapikan rambut, bapak tersebut sering mengajak saya berbincang-bincang kecil hanya untuk menutup kebisuan diantara saya dan dia. Dan bagi saya, hal tersebut merupakan teknik komunikasi yang baik sehingga pelanggan merasa sangat dianggap dan diperhatikan oleh si bapak. “Masnya asli mana? Kok kayaknya logat madura?” Tanya si bapak. “Wah iya benar pak. Saya asal Kabupaten Situbondo keturunan orang Madura. Bapak sendiri asli Malang kah?” jawab dan tanya saya. “Wah oreng madhure toh? Kaule oreng asli Malang, mas. Hahahah” dia berbicara dengan meniru logat madura. Percakapan itu tetap berlanjut hingga proses mencukur mencapai tahap terakhir.

“Bapak, apa rambut yang di depan ini bisa dipendekkan lagi?” pinta saya kepada beliau setelah menyadari adanya ketidakcocokan pada model yang dia buat. “Oalah, kurang pendek toh mas. Iya saya pendekkan ya mas. Maaf yam as, tadi saya kira yang di depan tetap ditinggal panjang agar bisa disisir gitu mas” si bapak langsung memendekkan rambut bagian depan milik saya dengan tersenyum senang.

Setelah proses mencukur telah selesai, saya langsung membayar biaya sekitar Rp 8.000 untuk jasa potong rambut. Segera setelah si bapak menerima uang tersebut, dia berkata “Makasih ya mas. Hati-hati jalan pulangnya mas”. “Iya sama-sama, bapak” Ujar saya.

Cerita tentang tukang potong rambut tersebut sebenarnya memiliki makna implicit yang sangat cocok dan relevan bila dikaitkan dengan asumsi dan konsep penerapan CSR oleh perusahaan. Mengapa bisa relevan? Apanya yang relevan? Bagaimana cerita tersebut dapat relevan dengan konsep CSR? Bukannya kedua hal tersebut memiliki dimensi dan lokasi yang berbeda?

Relevansi antara cerita tukang potong rambut dan CSR terletak dari unsure nilai yang dimiliki keduanya, nilai komunikasi dan harmonisasi yang berujung pada perkembangan yang berkelanjutan. Dengan dasar nilai komunikasi, maka sebenarnya CSR yang telah dan akan diterapkan oleh perusahaan harus syarat nilai komunikasi. Hal tersebut demikian, perusahaan diharuskan dapat menyampaikan nilai-nilai perusahaan kepada masyarakat atau objek CSR. Untuk melakukannya, perusahaan harus benar-benar mampu menyeimbangkan dan beradaptasi dengan cara komunikasi serta budaya yang telah dianut sejak dulu oleh masyarakat objek. Teknik komunikasi tersebut dirasa sangat penting karena kebanyakan orang Indonesia yang masih berpegang teguh pada ajaran nenek moyang, mereka akan mengutamakan pihak yang mampu menjadi bagian dari kebudayaa. Dengan demikian, teknik komunikasi dalam penerapan CSR harus benar-benar dapat menjadikan program CSR salah satu dari kebudayaan tersebut.

Oleh karena itu, proses perencanaan pelaksanaan program CSR harus dibuat sematang-matangnya. Hal ini perlu dilakukan karena proses adaptasi dan komunikasi kepada masyarakat tertentu akan memakan waktu lebih banyak. Namun hal tersebut dapat dilumrahkan karena pada dasarnya, CSR diterapkan agar nantinya masyarakat dapat dengan secar mandiri melanjutkan kegiatan perekonomian untuk mensejahterahkan masyarakat.

Muchammad Asy’ari Mashbur Nasran
Mahasiswa S1 Akuntansi Universitas Brawijaya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s